SUKU BUNGA PDRB DAN DEPOSITO

PENGARUH TINGKAT SUKU BUNGA DAN PDRB TERHADAP DEPOSITO DI PROVINSI ACEH BERDASARKAN DATA TAHUN 2005-2010
Mukhlis, SE, M.Si dan Agus Irwanto, SE
Dosen Universitas Almuslim dan STIE Kebangsaan Bireuen – Aceh

ABSTRACT
The development and the rate of domestic interest  is influenced by many factors such as; inflation, the bank conditing and monetary authority. The development and the rate of interest is one of the important things for monetary indicator. In the other side, the development of interest have to reflect some foundamental factors.  In Indonesia, the rate of interest have influenced some kinds of choice in saving and depositing.  In Aceh province, the growth of deposit budget has increased in the last five years. But, it is different with PDRB.  Based on the constans price in 2005, it is around Rp. 36.287,92 million, while in 2010, it is only around Rp. 33.070 million. The result of this research, based on the secondary data, PDRB, and the rate of interest for 12 months, it will have the significant influence toward depositing to the environment conventional bank in Aceh province.
Key Words: Rate of Interest, PDRB, Deposito
1.    Pendahuluan
Modal pembangunan yang berasal dari dalam negeri biasanya dihimpun dari dana masyarakat. Lembaga perbankan merupakan salah satu lembaga yang mempunyai potensi untuk meng-himpun dana masyarakat. Dana yang dihimpun bank biasanya dalam bentuk giro, deposito dan tabungan. Untuk mendukung peningkatan kinerja perbankan, pemerintah pun telah banyak menge-luarkan kebijakan di bidang keuangan (Soedrajad,2001:142).
Dalam mekanisme pasar, tingkat suku bunga yang terjadi pada dasarnya merupakan refleksi dari interaksi antara kekuatan permintaan dan penawaran dana yang dilakukan oleh masyarakat dan Bank Sentral. Peranan tingkat suku bunga sangat penting dalam kebijaksanaan perekonomian suatu Negara. Meningkatnya kebutuhan terhadap sumber-sumber pembiayaan akan menyebabkan naiknya suku bunga, kebijakan moneter di Indonesia dalam rangka menekan laju inflasi adalah mempertahankan tingkat suku bunga tinggi. Dengan kata lain peredaran uang yang diperketat dapat mempertahankan tingkat harga pada tingkat aman.
Perkembangan dan tingkat suku bunga dalam negeri dipengaruhi oleh berbagai faktor seperti inflasi, kondisi perbankan serta langkah dan tindakan otoritas moneter. Bagi otoritas moneter, perkembangan dan tingkat suku bunga merupakan satu indikator moneter yang sangat penting. Disatu sisi, perkembangan suku bunga harus mereflek-sikan faktor-faktor fundamental. Dan disisi lain, diupayakan dapat menunjang pencapaian sasaran-sasaran ekonomi makro yang ditetapkan pemerintah.
Persoalan tingkat suku bunga di Indonesia tidak kalah pentingnya juga dalam menentukan keefektifan program rekapitulasi perbankan. Ada 4  (empat) masalah besar bank di Indonesia yang pada akhirnya terpaksa diatasi dengan cara rekapitalisasi, (menurut E.G.Masassya,  Business News 6273/15-2-1999 No.774/Tahun – XI/ 1999, 1C), yaitu :
a.    Masalah non performing loan, hal ini meng-haruskan bank-bank menyediakan cadangan penghapusan piutang yang cukup besar.
b.    Masalah likuiditas, implikasinya bank-bank terpaksa  memberlakukan suku bunga tinggi  agar dana masyarakat dapat dihimpun.
c.    Bank-bank terjebak dalam posisi terbuka devisa netto (net open position)  yang tinggi, akibatnya setiap terjadi pergerakan dalam nilai rupiah maka bank-bank berpotensi mengalami forex loss.
d.    Negative spread, kondisi ini terjadi karena biaya dana lebih tinggi dibanding pendapatan dari bunga pinjaman.
Tingkat suku bunga yang masih terlalu tinggi adalah kurang intensif bagi kinerja perbankan pasca rekapitulasi. Artinya meskipun telah disuntik dana segar yang lebih besar, perbankan nasional tidak akan mampu bangkit selama modal mereka terus-menerus terkuras akibat negative spread (selisih bunga deposito dengan kredit) besar. Mengingat, tingkat suku bunga pada dasarnya merupakan refleksi dan kekuatan permintaan dan penawaran dana.
Dengan demikian perkembangan dan tingkat suku bunga mencerminkan tingkat kelangkaan atau kecukupan dana di masyarakat. Tingkat  suku bunga berkaitan dengan inflasi, permintaan dalam negeri dan nilai tukar rupiah. Selain itu  tingkat suku bunga sangat berperan terhadap arus modal masuk dan keluar. Oleh karena itu upaya pengendalian tingkat suku bunga yang dilakukan harus selalu memperhatikan keseimbangan di antara berbagai faktor.
Di Indonesia tingkat suku bunga mempunyai pengaruh yang kuat terhadap pemilihan penyimpanan bentuk-bentuk kekayaan yang berwujud tabungan atau deposito berjangka. Semakin tinggi tingkat bunga semakin semakin besar kemungkinan pemilihan penyimpanan kekayaan dalam bentuk tabungan/deposito berjangka. Tingkat bunga deposito yang diterima oleh deposan sebenarnya adalah tingkat bunga nominal yang  merupakan penjumlahan dari unsur-unsur tingkat bunga riil dan inflasi. Tingkat bunga riil adalah tingkat bunga nominal yang telah disesuaikan dengan laju inflasi yang terjadi pada periode yang sama. Jadi tingkat bunga riil merupakan selisih antara tingkat bunga nominal dengan laju inflasi.
Di Provinsi Aceh pertumbuhan dana deposito mengalami peningkatan yang sangat signifikan dalam lima tahun terakhir, pada akhir tahun 2005 jumlah deposito di Provinsi Aceh Rp 2.040.501 juta menjadi Rp 4.365.181 juta pada akhir 2010 atau meningkat 114%. Pertumbuhan deposito di Provinsi Aceh dari tahun 2005 sampai 2010 dapat dilihat pada gambar (Lampiran-1).
Data tahun 2005-2010, menunjukkan adanya peningkatan deposito dan tingkat  suku bunga di Provinsi Aceh Rp 1.238.943  juta  pada periode Maret 2005 menjadi Rp 2.676.616 juta pada bulan Maret 2006 atau mengalami peningkatan sebesar 116%.  Deposito  bertambah sangat signifikan menjadi  Rp 4.850.324 juta pada bulan Juni 2006 atau meningkat hampir dua kali lipat hanya dalam kurun waktu tiga bulan. Padahal tingkat suku bunga deposito satu dan tiga bulan pada periode Juni 2006 justru turun bila dibandingkan dengan  tingkat suku bunga deposito pada bulan Maret 2006. Pada periode Juni 2007 deposito di Provinsi Aceh mencapai Rp 5.025.796 juta tertinggi untuk kurun waktu 2005 sampai 2010, padahal tingkat suku bunga deposito masih menunjukkan trend penurunan.  Hingga periode Maret 2008 tingkat suku bunga terus mengalami penurunan, ini berpengaruh pada deposito yang juga turun secara signifikan dari Rp 5.025.796 juta pada periode Juni 2007 menjadi Rp 1.236.769 juta pada Maret 2008, atau turun sebesar 75%. Pada September 2008 deposito kembali naik di Provinsi Aceh mencapai Rp 4.723.296  juta atau naik sebesar 282% bila dibandingkan periode Maret 2008.
Kenaikan deposito periode ini seiring dengan kenaikan tingkat bunga deposito untuk bunga deposito satu dan tiga bulan. Dari periode Desember 2008 sampai dengan Desember 2010 deposito mengalami naik turun seperti halnya tingat suku bunga, tapi tidak ada kenaikan atau penurunan yang signifikan baik jumlah deposito maupun tingkat suku bunga.
Menurut Keynes simpanan merupakan fungsi dari pendapatan. Simpanan ditentukan oleh pendapatan nasional atau regional. Tidak semua pendapatan yang diterima seseorang digunakan untuk konsum-si, sebagian akan disisihkan untuk simpanan. Bila pendapatan rendah, rumah tangga tidak dapat menabung atau hanya sedikit menabung karena semua atau sebagian besar pendapatannya digunakan untuk konsumsi. Pada tingkat penda-patan lebih tinggi, konsumsi dan tabungan akan lebih besar.
Produk Domestik Regional Bruto (PDRB) merupakan jumlah nilai barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh berbagai unit produksi yang berada di satu wilayah, dengan  cara  mengurangi biaya antara masing-masing total produksi bruto dari tiap-tiap sektor dalam jangka waktu tertentu (biasanya satu tahun).
Data Statistik Aceh, berkaitan dengan Produk Domestik Regional Bruto (PDRB), menujukkan adanya tren menurun dari waktu ke waktu.  Data tahun 2005, PDRB Aceh mencapai Rp 36.287,92 Milyar, sedangkan tahun 2010 lalu hanya mencapaiRp 33.070 Milyar.
Tabel 1. PDRB Provinsi Aceh atas Dasar
Harga Konstan tahun 2000
No.    Tahun    PDRB
(Milyar Rupiah)
1.    2005      36.287,92
2.    2006       36.853,87
3.    2007     35.923,90
4.    2008     32.943,07
5.    2009    32.220
6    2010    33.070
Sumber: Badan Pusat Statistik, diolah (2011).

2. Tinjauan Pustaka
Deposito
Simpanan deposito dalam Undang-Undang Nomor 10 Tahun 1998 dinyatakan sebagai simpanan yang penarikannya hanya dapat dilakukan pada waktu tertentu berdasarkan perjanjian nasabah penyimpan dengan bank (Martono, 2003:40). Berbeda dengan tabungan dan giro, simpanan deposito mengandung unsur jangka waktu (jatuh tempo) yang lebih panjang dan dapat ditarik atau dicairkan hanya setelah jatuh tempo. Begitu pula dengan suku bunga yang diberikan relatif lebih tinggi dibanding dengan tabungan dan giro. Bunga disesuaikan dengan perkembangan pasar dan biasa di berikan setiap bulan sesuai dengan tanggal jatuh temponya.
Untuk mencairkan deposito maka pemilik deposito (deposan) dapat menggunakan bilyet deposito atau sertifikat deposito. Dalam praktiknya ada tiga jenis deposito yaitu deposito berjangka, sertifikat deposito dan deposit on call. Penetapan suku bunga untuk setiap jangka waktu ditetapkan masing-masing bank sesuai dengan perhitungan kondisi bunga dipasar. Jika diperhitungkan bunga yang akan datang cenderung menurun, maka penetapan bunga untuk jangka waktu yang lebih panjang, lebih rendah. Sebaliknya jika diperhi-tungkan bunga pasar yang akan datang cenderung meningkat, maka penetapan bunga untuk jangka waktu yang lebih panjang lebih tinggi. Hal ini dimaksudkan agar masyarakat menempatkan depositonya dengan waktu yang paling panjang, dengan demikian bila terjadi kenaikan bunga deposito, maka bank akan tetap memelihara deposito tersebut dengan bunga seperti pada saat pembukuan (Mudrajat Kuncoro dan Suhardjono, 2003:193-194). Bunga deposito berjangka dibayarkan setiap tanggal jatuh tempo (tanggal yang sama denga tanggal pembukuan) atau tanggal jatuh tempo pokok (tanggal berakhirnya jangka waktu penyimpanan).
Inflasi adalah kecendrungan dari harga-harga untuk naik secara umum dan terus-menerus dalam kurun waktu tertentu. Diartikan juga sebagai naiknya terus menerus tingkat harga pada suatu perekonomian akibat kenaikan permintaan agregat/penurunan penawaran agregat. Indeks harga konsumen adalah ukuran tingkat harga sebagai indikator inflasi. IHK dihitung setiap bulan berdasarkan perkembangan harga barang dan jasa yang dikonsumsi rumah tangga seluruh ibu kota propinsi di Indonesia (D.Soebagiyo & E.H.Prasetyawati, 2002: 101-102).
Kenaikan harga inflasi diukur dengan meng-gunakan indeks harga.  Beberapa indeks harga yang digunakan untuk mengukur inflasi antara lain:
1)    Indeks biaya hidup (consumer price index)
2)    Indeks harga perdagangan besar (Wholesale price index)
3)    GNP deflatori

Suku Bunga
Pengertian dasar dari teori tingkat suku bunga yaitu harga dari penggunaan uang untuk jangka waktu tertentu (Boediono, 1998: 75). Bunga merupakan imbalan atas ketidaknyamanan karena melepas uang, dengan demikian bunga adalah harga kredit. Seandainya A meminjam uang sebesar Rp 1.000,00 kepada B dengan bunga 25% setahun, maka setahun lagi B harus mengem-balikan sebesar Rp 1.250,00 yang terdiri dari Rp 1.000,00 merupakan uang pokok dan Rp 250,00 yang merupakan bunga kepada A sebagai kreditur.
Tingkat suku bunga adalah harga-harga, ditentu-kan seperti harga-harga lainnya di pasar-pasar oleh transaksi antara pembeli dan penjual. Barang yang dipertukarkan dalam hal ini adalah kredit atau pemakaian uang untuk suatu periode tertentu. Tingkat suku bunga berkaitan dengan peranan waktu didalam kegiatan-kegiatan ekonomi. Kepada konsumen, pedagang/ pengusaha dan pemerintah uang sekarang tidak sama dengan uang pada tahun yang akan datang. suku bunga timbul karena kebutuhan untuk mempunyai uang sekarang.
Pada perekonomian suatu negara, tingkat suku bunga mempunyai peranan penting baik pada tingkat mikro maupun pada tingkat makro. Dalam tingkat mikro, tingkat suku bunga merupakan harga yang mempunyai peran dalam alokasi sumber untuk penggunaan alternatif. Dengan kata lain tingkat suku bunga mempunyai peran dalam alokasi faktor produksi untuk menghasilkan barang dan jasa yang akan dipakai sekarang dan kemudian hari. Pada tingkat makro, tingkat suku bunga merupakan faktor yang dapat berpengaruh tingkat harga umum, pendapatan dan kesempatan kerja.
PDRB
Produk Domestik Bruto (PDB) adalah Jumlah barang dan jasa akhir yang dihasilkan oleh suatu perekonomian dalam satu tahun. (Suparmoko, 1991 : 206) PDB ini merupakan ukuran yang global sifatnya dan bukan merupakan alat peng-ukur yang tepat, karena belum dapat mencermin-kan kesejahteraan masyarakat sesungguhnya, berhubung kesejahteran itu harus dinikmati oleh setiap penduduk negara yang bersangkutan. Oleh karena itu, kita harus mempertimbangkan jumlah penduduk negara-negara tersebut sebagai penimbang. Hal ini karena pada umumnya semakin besar jumlah penduduk suatu negara akan semakin besar beban yang ditanggung oleh negara tersebut.
Pendapatan perkapita adalah pendapatan rata-rata penduduk, oleh sebab itu untuk memperoleh pendapatan perkapita pada suatu tahun, yang harus dilakukan adalah membagi PDB pada tahun itu dengan jumlah penduduk pada tahun yang sama. (Sadono Sukirno, 1985 : 21).
Kebijaksanaan tingkat bunga di negara-negara berkembang ditujukan untuk mencapai tujuan-tujuan sebagai berikut :
a.    alokasi dana yang bisa diinvestasikan secara efisien
b.    mobilisasi sumber-sumber domestik secara efektif
c.    kredit murah untuk sektor pemerintahan
d.    stabilisasi ekonomi makro
Menurut teori klasik, makin tinggi tingkat bunga, makin tinggi pula keinginan untuk menabung. Artinya pada tingkat bunga yang lebih tinggi, masyarakat lebih terdorong untuk mengorbankan atau mengurangi pengeluaran untuk konsumsi guna menambah tabungan (Suparmoko,1991:76).
Pada dasarnya inflasi berbeda dengan sekedar kenaikan harga, ataupun perubahan positif dari harga, tetapi perubahan tersebut tidak berlangsung secara terus-menerus. Hanya merupakan kenaikan dalam tingkat harga, bukan sebagai gejala inflasi seperti : kenaikan harga dari satu atau dua barang saja serta kenaikan harga-harga karena musiman, menjelang hari-hari besar atau hanya terjadi sekali saja (dan tidak mempunyai pengaruh lanjutan).
Berbagai pendapat mengenai inflasi menimbulkan suatu pertentangan antara golongan monetaris dengan strukturalis. Pertentangan pendapat mengenai inflasi tersebut dikenal sebagai perdebatan di antara golongan monetaris dengan strukturalis atau “the monetarist-stucturalist controversy” (Sukirno, 2003: 368)
3. Metode Penelitian
Penelitian ini dilakukan di Provinsi Aceh pada variabel yang dianggap mempunyai keterkaitan dalam mempengaruhi deposito di Provinsi Aceh yaitu tingkat bunga periode berjalan dan tingkat bunga periode sebelumnya. Data jumlah deposito dan tingkat suku bunga yang digunakan adalah data sekunder  yaitu berupa data   yang  berbentuk  angka-angka  dari  Bank Indonesia Cabang Banda Aceh.
Teknik pengumpulan data yang diperguna-kan adalah melakukan pencatatan langsung berupa data seri waktu (time series) tahun 2005 sampai 2010.  Sedangkan data PDRB Provinsi Aceh Berdasarkan harga konstan tahun 2000 didapat dari publikasi Badan Pusat Statistik. Dikarenakan data PDRB merupakan data tahunan, maka digunakan metode interpolasi data untuk pengolahan data tahunan menjadi triwulan. Model analisis data yang digunakan dalam menganalisa data adalah model ekonometrika. Teknik analisis yang digunakan adalah metode kuadrat terkecil biasa (Ordinary Least Square).
Deposito di Provinsi Aceh dipengaruhi oleh tingkat suku bunga dan pendapatan yang dinyatakan dalam fungsi (Indra Darmawan: 2006) sebagai berikut:
Deposito    =    α + β1 PDRB + β2 r +  µ

Dimana:
α    = Intercept
β1, β2    = koefisien regresi
PDRB    = Produk Domestik Regional Bruto
r    = suku bunga deposito (%)
µ    = Kesalahan pengganggu

4. Hasil Penelitian dan Pembahasan
Koefisen Determinasi
Hasil uji pada variabel PDRB dan tingkat suku bunga deposito satu bulan menunjukkan  bahwa nilai R Square sebesar 0,145 yang berarti konstribusi variabel PDRB dan tingkat bunga deposito satu bulan mampu menjelaskan variabel deposito sebesar 14,5 persen sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diuji dalam penelitian ini.
Hasil pengujian pada variabel deposito, PDRB dan tingkat bunga tiga bulan menunjukkan bahwa R Square sebesar 0,146 yang berarti konstribusi PDRB dan tingkat bunga deposito tiga bulan mampu menjelaskan variabel deposito  sebesar 14.6 persen, sedangkan sisanya dipengaruhi oleh variabel lain yang tidak diuji dalam penelitian ini.
Hasil pengujian pada variabel deposito, PDRB dan tingkat bunga dua belas bulan menunjukkan bahwa R Square sebesar 0,631 yang berarti konstribusi PDRB dan tingkat bunga deposito dua belas bulan mampu mempengaruhi variabel deposito sebesar 63,1 persen.
Uji T-Statistik
Pada pengujian variabel deposito, PDRB dan tingkat bunga deposito satu bulan, nilai Sig. PDRB 0.106 dan nilai Sig. tingkat suku bunga 0.273 berarti nilai signifikasi lebih besar dari 0,05. Yang berarti bahwa PDRB dan suku bunga deposito satu bulan secara individual tidak berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah deposito.
Pada pengujian variabel deposito, PDRB dan tingkat bunga deposito tiga bulan, nilai Sig. PDRB 0.101 dan nilai Sig. tingkat suku bunga 0.267 berarti nilai signifikasi lebih besar dari 0,05. Sedhingga, PDRB dan suku bunga deposito tiga bulan secara individual tidak berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah deposito.
Pada pengujian variabel deposito, PDRB dan tingkat bunga deposito satu bulan, nilai Sig. PDRB 0.002 dan nilai Sig. tingkat suku bunga 0.000 berarti nilai signifikasi lebih kecil 0,05. Dengan demikian bahwa PDRB dan suku bunga deposito dua belas bulan secara individual berpengaruh secara signifikan terhadap jumlah deposito.
Uji F-Statistik
Dari hasil analisis untuk variabel deposito, PDRB dan tingkat suku bunga deposito satu bulan pada derajat kepercayaan 95% menunjukkan bahwa nilai Sig. sebesar 0.193 > 0,05  dengan demikian  dapat disimpulkan bahwa PDRB dan tingkat bunga Deposito satu bulan secara bersama-sama tidak berpengaruh secara signifikan terhadap deposito.
Hasil  analisis untuk variabel deposito, PDRB dan tingkat suku bunga deposito tiga bulan pada derajat kepercayaan 95% menunjukkan nilai Sig. F sebesar  0.190 > 0,05 dengan demikian PDRB dan tingkat suku bunga deposito tiga bulan secara bersama-sama tidak berpengaruh secara signifikan terhadap deposito.
Hasil  analisis untuk variabel deposito, PDRB dan tingkat suku bunga deposito dua belas bulan pada derajat kepercayaan 95% menunjukkan nilai Sig. F sebesar  0.000 < 0,05     Maka dapat disimpulkan bahwa PDRB dan tingkat suku bunga deposito dua belas bulan secara bersama-sama berpengaruh secara signifikan terhadap deposito.
Uji Multikolinearity
Uji multikoloniaritas bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi ditemukan adanya korelasi antar variabel bebas. Model regresi yang baik seharusnya tidak terjadi korelasi antara variabel bebas. Multikoloniaritas dapat dilihat dari nilai tolerance dan variance inflation factor  (VIF). Batas dari nilai VIF adalah 10 dan tolerance  value adalah 0,1. Jika nilai VIF lebih besar dari 10 dan nilai tolerance  kurang dari 0,1 maka akan terjadi multikoloniaritas dan model regresi tidak layak untuk dipakai.
Berdasarkan pengujian pada variabel deposito, PDRB dan tingkat bunga deposito satu, tiga dan dua belas bulan  diketahui nilai VIF lebih <10, dan nilai tolerance > 0.1. Dengan demikian dapat disimpulkan tidak terjadi hubungan yang kuat (kombinasi linear) diantara independen variabel.
5. Simpulan
Pendapatan (PDRB) dan tingkat suku bunga deposito dua belas bulan secara simultan berpengaruh secara signifikan terhadap deposito pada bank konvensional di Provinsi Aceh.  Kenaikan PDRB dan tingkat suku bunga deposito dua belas bulan akan meningkatkan deposito di Provinsi Aceh. Tingkat suku bunga deposito satu dan tiga bulan baik tidak berpengaruh secara signifikan terhadap deposito berjangka pada bank konvensional di Provinsi Aceh.
Daftar Pustaka
Bank Indonesia. 2004. Statistik Ekonomi Keuangan Indonesia, berbagai tahun Penerbitan
Boediono. 1998. Ekonomi Mikro, Seri Sinopsis Pengantar Ilmu Ekonomi No. 1. Yogyakarta: BPFE
_____    . 1994. Ekonomi Moneter, Yogyakarta: BPFE
Damodar, Gujarati. 1997. Ekonometrika Dasar. Jakarta: Erlangga
Djarwanto, PS. 1994. Statistik Induktif, Yogya-karta: BPFE
Djiwandono, J.Soedradjad. 2001. Bergulat dengan Krisis dan Pemulihan Ekonomi Indonesia. Jakarta: Pustaka Sinar Harapan
E.G.Masassya, 1999, Permasalahan Ekonomi, Perihal Arah Bisnis Bank Pasca Restrukturisasi, Business News 6273/15-2-1999 No.774/Tahun – XVI/ 1999.
Faried, Wijaya. 1991. Ekonomika Mikro, Edisi 2. Yogyakarta: BPFE
Fatimah Nurhayati, S & Niladewi K. 2003. Analisis Permintaan Deposito dalam Valuta Asing pada Bank Swasta Nasional di Indonesia; Jurnal Ekonomi Pembangunan, Volume 4, No. 2, 81-204.
Hady, Hamdy. 2001. Ekonomi Internasional, Buku 2. Jakarta: Ghalia Indonesia
Iswardono, Sp. 1996. Uang dan Bank, Edisi 4. Yogyakarta: BPFE
Lincolin, Arsyad. 1992. Ekonomi Pembangunan, bagian Penerbitan Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN.
_________. 1992. Ekonomi Moneter. Edisi 4, Yogyakarta: BPFE
Martono. 2003. Bank dan Lembaga Keuangan Lainnya, Edisi II, Yogyakarta: Ekonesia
Mudrajad, Kuncoro dan Suhardjono. 2002. Manajemen Perbankan Teori dan Aplikasi, Yogyakarta: BPFE
Nopirin. 1987. Ekonomi Moneter. Buku 2. Edisi I. Yogyakarta : BPFE UGM
______. 1996. Ekonomi Internasional. Yogya-karta: BPFE.
Sadono, Sukirno.  2003. Teori Mikro Ekonomi.  Jakarta: FEUI.
Salvatore, Domonick. 1995. Ekonomi Interna-sional, Jakarta: Erlangga
Soediyono. 2002. Ekonomi Mikro, Edisi 2. Yogya-karta: Liberty
Soebagiyo, D. & E.H Prasetyowati. 2003. Analisis Faktor-faktor yang Mempengaruhi indeks Harga Saham di Indonesia”, Jurnal Ekonomi Pembangunan, Volume 4, No.2, 81-204.
Thomas, Suyatno. dkk. 1996. Kelembagaan Perbankan, Jakarta: Gramedia

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: