H. Mahyuddin Adan :

“ACEH BUTUH ORANG YANG MENGGUNAKAN

HATI DAN OTAKNYA”

H. Mahyuddin Adan

H. Mahyuddin Adan

“Siapa sangka, crew redaksi Warta Kamaba dapat bertatap muka dengan tokoh yang satu ini. Setelah buat janji sehari sebelumnya, redaksi WK, sipersilahkan bertemu di Tarbucks Coffee Plaza Senayan Jakarta Pusat. Pertemuan berlangsung sekitar jam 10.00 Wib pada Sabtu, 27 Juni 2009. Tampil sederhana dan rileks, mengenakan baju kemeja bergaris merah jambu, pak Mahyuddin mulai mempersilahkan tim redaksi WK yang terdiri atas Zoelkifli M. Adam, Zoel Zaini dan Win Manan mengambil tempat di sudut utara Coffee tersebut. Tidak berapa lama, pramusaji coffee, menghidangkan kopi dan snack sekedarnya. ***

Pembicaraan kami buka, dengan menya-pa dan menanyakan kondisi kesehatan dan aktivitas beliau. Dengan santai, laki-laki kelahiran Sigli, 9 Agustus 1945 ini menjawab. Alhamdulillah sehat-sehat dan aktivitas saya berjalan normal, walaupun bulan-bulan terakhir ini saya terus bolak-balik Jakarta-Aceh. Selain mengontrol bisnis, sebut Mahyuddin, juga masuk sebagai relawan tim kemena-ngan JK dalam Pilpres Juli mendatang. *** Mahyuddin Adan, bagi kebanyakan orang Aceh sudah cukup popular. Karena orang sudah mengenal peran dan aktivitasnya sejak awal perintisan perdamaian damai RI-GAM. Hal itu mulai dikerjakannya sejak tahun 2003, bersama Dr. Dr. Farid Husain. Dr. Farid Husain sendiri adalah orang pemerintah yang ditugaskan langsung oleh Menkokesra, Jusuf Kalla, pada waktu itu. Mahyuddin, lebih tepat berperan saat itu sebagai penjembatan antara tim pemerintah ke GAM Peran Mahyuddin sangat besar untuk memberikan kepercayaan pada sejum lah elemen GAM dalam mejajaki perdamaian RI-GAM. Karena dikalangan Petinggi GAM dilapangan (Aceh), beliau sudah sangat akrab dan dipercaya. Hal ini juga diakui Farid Husain, seperti yang ditulisnya dalam buku To See the Unsen, Kisah di Balik Damai di Aceh. Seperti banyak diberitakan di media, baik media local dan Nasional, bahkan International. ***

 Mahyuddin dikenal sebagai salah satu kunci sukses, dapat dibukanya dialog antara tim Pemerintah RI dengan GAM lapangan dan juga Petinggi Malah Jusuf Kalla dengan tim negosiatornya Dr. Farid Husain sangat banyak terbantu dalam negosiasi yang dibuka dengan pihak GAM. ***

Siapa sebenarnya dan apa aktivitas laki-laki berbadan tegap dan kekar ini? Mahyuddin, sudah merantau ke Jawa, tepatnya di Bandung tahun 1963 untuk melanjutkan kuliah di ITB Bandung. Sejak menjadi mahasiswa, sudah mulai merintis kerja dan banyak mengenal para pejabat dan pebisnis di Bandung dan Jakarta. Sehingga tidak heran dalam usia 23 tahun beliau sudah banyak pengala-man dalam kegiatan bisnis, dan akhirnya terjun sebagai Pengusaha. Salah satu aktivitas bisnisnya adalah mensupplay kebutuhan TNI/ Polri. Cukup lama beliau menjadi rekanan di kalangan TNI/Polri, khususnya di Bandung dan Jawa Barat. Hingga kini aktivitas bisnis Mahyuddin terus dilakoninya, baik di Jawa, Jakarta dan beberapa daerah di Aceh. ***

Mengenai keterlibatan Mahyuddin, sebagai pembuka jalan negosisasi dalam usaha perdamaian RI-GAM. Kata Mahyuddin, ada beberapa hal, dan ini harus dia lakoni. Pertama, kebetulan saya sangat mengenal para Pemimpin GAM lapangan, seperti Malik Mahmud, Sofyan Dawood, dan Muzakkir Manaf. Dr. Farid Husain sendiri mengakui bahwa ; “berkat pak Mahyuddin, saya dapat bertemu dengan tokoh-tokoh GAM yang lebih tinggi, di dalam bahkan diluar negeri. Mahyuddin lah yang mendampingi saya, menemui petinggi GAM di Swedia. Dr Farid Husain adalah Tim Negosiator dalam Perundingan Damai RI-GAM. Merekalah penentu gerakan dan aksi GAM di Aceh, karena mereka ini adalah yang mendapat mandat langsung dari Petinggi GAM di Swedia, dengan panglima besarnya Hasan di Tiro. Kedua, Mahyuddin sangat yakin bahwa damai di Aceh akan dapat diwujudkan dengan semua pihak saling mengerti dan khususnya Pemerintah Pusat mau berbuat banyak dan berlaku adil untuk Aceh. Selama ini, apa yang dapat dinikmati oleh orang Aceh dalam bingkai NKRI ? tantang Mahyuddin. Siapa yang dapat menyanggah bahwa kekayaan dan komitmen orang Aceh untuk kemakmuran dan kemajuan Indonesia tidak ikhlas? Ini kan sudah terbukti, sejak masa perang melawan Belanda, merebut kemerde-kaan, dan mempertahankan kemerdekaan. Ketiga, lanjut Mahyuddin, bahwa saya sangat sedih, orang Aceh sudah tidak memiliki harga diri lagi” sehingga kala itu kita tidak tahu persis mana lawan mana kawan, padahal Aceh adalah modal bagi NKRI. Oleh karena itu, Mahyuddin mau diajak oleh Menkokesra, M. Jusuf Kalla membantu Dr. Farid Husain dalam usaha merintis dan membuka dialog serta membuat banyak scenario sehingga pintu jalan menuju Perdamaian RI – GAM dapat terlaksana. Alhamdulillah usaha ini membuahkan hasil, sehingga MoU Helsinki 15 Agustus 2005 tentang Perdamaian RI-GAM dapat terlaksana dengan lancar. Tetapi kita harus tahu, sebut Mahyuddin. Bahwa jalan menuju perdamaian ini tidak dilakoni dengan waktu singkat. Tim kami, harus bersabar dan terus berjuang selama kurang lebih 2 tahun. Itu dimulai pada medio 2003. Perjuangan ini, sangat mengandung risiko, dan harus keluar masuk hutan, berkali-kali harus pulang pergi kenegeri Singapora, Finlandia, dan Swedia. Ini juga diceritakan lengkap dalam kisah Dr. Farid Husain di buku To See the Unseen (Kisah di Balik Damai di Aceh). Keempat, saya sangat percaya bapak Jusuf Kalla adalah orang yang sangat peduli akan nasib rakyat Aceh. Sehingga saya rasa, JK telah berani “pasang badan” dalam semua proses menuju perdamaian sampai MoU damai RI-GAM terjadi. Disamping itu, sebut Mah-yuddin, tugas yang kemudi-an diberikan JK kepada saya sangat diuntungkan, Karena Dr. Farid yang diperintah-kan dan dipercaya langsung oleh Jusuf Kalla dalam merintis negosiasi ini orang yang sangat ulet, sabar dan pintar memanfaatkan pelu-ang, serta selalu mengguna-kan otak dan hati dalam bertindak., ungkap tokoh ini. ***

Dalam kesempatan ini pula redaksi WK tidak menyia-yiakan waktu, untuk men-dapatkan banyak pengala-man dari tokoh yang punya prinsip hidup “Berbuatlah selalu yang terbaik” ini. Sudah banyak cerita tentang kehidupan dan persauda-raan Mahyuddin bersama GAM dan rakyat Aceh secara keselu-ruhan. Menurut pandangan Mah-yuddin, banyak orang di Aceh yang Soleh, yang Pintar, dan yang kaya. Namun Aceh kini butuh orang yang dapat menggunakan hati dan otaknya, dalam membangun dan menjaga perdamaian, yang telah dicipta-kan ini. Sebenarnya, di daerah mana di negeri ini yang benar-benar aman dan adil? Malah masih ada di daerah lain yang jelas tidak lebih aman dari nanggroe Aceh. Tetapi karena banyak orang yang Soleh, Pintar dan kaya yang mengguna-kan hati dan otaknya untuk menjaga keseimbangan hidup dan kehidupan, maka sisi ketidak amanan itu dapat diminimalisir. Dan akhirnya masyarakat dapat hidup layak serta berpartisipasi membangun daerahnya. Kuncinya, sebut Mahyud-din, “kita di Aceh cukup punya banyak orang soleh, orang yang pintar, dan juga banyak orang kaya, tetapi pada saat yang sama tidak mau menggunakan hati dan otaknya untuk orang lain, apalagi dalam membangun daerahnya. Tidak sedikit, Unsyiah menciptakan kader-kader pemimpin, dan intelektual. Juga tidak sedikit IAIN Ar-Raniri dan lainnya, menelorkan para ahli agama, dan tokoh intelektual. Belum lagi para lulusan luar negeri yang tidak kebilang sedikit di Aceh. Namun itulah…. seperti tadi saya ungkapkan. Marilah kita bersama-sama bahu membahu menjaga dan membangun daerah ini (Aceh) dengan ikhlas dan mau berkorban. Jangan lagi ada saling mengecilkan antar sesa-manya. Hilangkan ego bahwa aku berjuang untuk Aceh,kamu tidak. Aku orang GAM, yang lain bukan, aku orang Sigli, aku orang Gayo, dan lain-lain, yang berujung perang antar sesama orang Aceh. Alhamdulilah, Allah telah melimpahkan kekayaan pada bumi Aceh. Gunakan otak dan bekerja dengan hati untuk sama-sama meraih kehidupan yang adil dan makmur. Demikian ungkap Mahyuddin bersemangat. ***

Diakhir pembicaraan, kami sempat juga menyinggung tentang calon pemimpin nasional yang berlaga dalam Pilpres 8 Juli 2009 men-datang. Mana diantara ketiga calon yang ada yang sangat dapat menjaga dan menjamin perdamaian dan kehidupan di Aceh mendatang?. Dengan tersenyum, Mahyuddin menjawab bahwa, soal pilihan adalah persoalan nasional. Bagi Aceh, siapapun presiden terpilih bukan masalah. Yang perlu kita titipkan bahwa semua persoalan di Aceh dan apa yang terbaik untuk Aceh harus dilaksanakan. Khususnya mengawal dan menjaga hasil-hasil yang dicapai dalam MoU Helsinki 2005. Lebih lanjut, urusan internal dan kehidupan di Aceh, percayakan kepada rakyat dan pemimpin Aceh. Tetapi, bapak lebih condong memihak siapa? desak WK. Secara pribadi dan jika bisa menghimbau, kita harus lihat masa beberapa tahun lalu. Siapa yang sudah pasang badan dan berkorban besar dalam membuat Aceh damai, membuat Aceh lebih aman, membuat Aceh bersatu lagi dengan Republik ini. Semua kita sepakat, beliau adalah Jusuf Kalla. Jadi tidak salah jika saya sangat dukung bapak M. Jusuf Kalla. Dan saya sendiri terjun sebagai tim relawan untuk kemenangan JK. Kenapa pak ? Tanya WK lebih lanjut. Pertama, selain alasan yang saya ungkapkan tadi. Saya sangat yakin JK dapat memenangkan Pilpres ini. Keyakinan ini, persis seperti yakinnya saya pada datangnya perdamaian di Aceh. Kalau sebagian besar rakyat Aceh, kedengarannya mau SBY melanjutkan, itu tidak masalah bagi saya. Tetapi, bagi yang masih tagu-ragu, dan belum punya pilihan mantap, saya ajak bergabung untuk mendukung dan memenangkan Kalla, tutup Mahyuddin mantap** (Win/Kamaba)

2 responses

  1. Butuh orang yg punya otak dan hati…!!!
    Tuh contohnya kayak DPRK Bireuennya…tikus semua tuh……otaknya ditarok dimana ya?…
    di dengkul kali ya…ha ha ha

    1. oh wawwwwww

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: