Pelestarian Tanaman Khas Atjeh & Waktu Menanamnya

 

Pengantar

 

Provinsi Aceh (Nanggroe Aceh Darussalam), merupakan kerajaan besar pada zaman dinasti Utsmaniah Turki, bahkan kerajaan Atjeh menduduki peringkat kelima kerajaan besar Islam pada masa itu, sepantasnyalah sebuah kerajaan besar mempunyai ahli-ahli di bidangnya, disamping kelebihan-kelebihan lain yang patut diperhitungkan oleh dunia Internasional pada masa itu, seperti aneka ragam flora dan fauna spesifik Atjeh.

 

1. Jenis-jenis tanaman khas Atjeh

 

 a.Buah Kelapa Manis

 

 

 Dalam bahasa Atjeh disebut U Mameh atau U Mirah atau U Lam, walaupun istilahnya berbeda, namun jenis kelapa yang dimaksud sama saja, kelapa ini berwarna merah dan diperkirakan hanya ada di bumi Atjeh serta sangat langka, keistimewaan kelapa ini, hanya dengan mengupas kulit arinya saja yang lainnya dapat dimakan semuanya, mulai dari sabut, batok sampai isinya, seperti kita memakan buah apel dan rasanya manis serta enak sekali, kelapa jenis ini lebih kecil sedikit dari kelapa biasa. Menurut sejarah, kelapa ini sering dihidangkan kepada Raja dan Tamu penting kerajaan Atjeh.

 

b.Jeruk Purut Manis

 Dalam bahasa Atjeh disebut dengan Boh Kruet Mameh atau Boh Teulangsa.

Ciri-ciri: pohon dan buahnya persis seperti jeruk purut biasa yang rasanya asam, sering

dipergunakan untuk memasak ikan dan mencuci rambut, yang membedakan jeruk

purut manis terletak pada rasanya yang manis dan harum, bahkan kulit “Kruet Mameih” ini sering dicampurkan ke dalam minyak rambut wanita (Jeruk purut manis lebih besar sedikit buahnya dibanding jeruk purut asam, dan pada masa lalu sering dihidangkan dalam jamuan pembesar-pembesar kerajaan Atjeh.

 

 c.Keupula Atjeh

 

 Orang Atjeh ada juga yang menyebutnya dengan Keupula Jawa, pohon dari tanaman ini lebih putih dari pohon sawo dan daunnya lebih muda warnanya diban-dingkan tanaman sawo, walaupun secara keseluruhan hampir mirip dengan tanaman sawo biasa (Boh Siku), yang membedakan tanaman ini ada pada rasa buah yang unik dan sangat enak untuk dinikmati. Buah Keupula jika sudah tua

berwarna merah kecoklatan, seperti anggur merah jika dimakan mempunyai tiga rasa dalam buahnya yakni rasa sawo, kurma dan anggur, sangat nikmat sekali, buah inilah oleh sebagian orang Atjeh disebut dengan Boh Malakat, disebabkan rasa buahnya yang sangat nikmat bila sudah tua, buah ini pada masa lalu sering dihidangkan pada upacara-upacara adat.

 

 Dalam bahasa Atjeh disebut dengan Boh Pineung Tiba atau Pineung Tuba, ciri-ciri tanaman ini, batang, daun dan buahnya lebih besar dari pinang biasa, sedangkan warna buahnya merah tua dan kulitnya mempunyai rasa manis dan enak bila dimakan, buah tanaman ini pada masa lalu sering dijadikan hiasan pada upacara perkawinan.

 

 

Pohon dan buahnya sama dengan rambutan biasa, tapi bila sudah matang bulu dari buah rambutan ini lebih lebat dan berwarna merah menyala, namun rasa dari rambutan ini mempunyai nuansa khas yang jauh lebih lembut, manis dan segar dibandingkan rambutan lainnya.

 

 

f.Kenanga (Seulanga) Putih

 

 

Ciri-ciri dari tanaman ini, warna daun dan batangnya keputih-putihan dan bunganya berwarna putih segar hampir mirip dengan bunga tanjung. Sedangkan Kenanga (Seulanga) biasa, daun dan bunganya berwarna hijau atau kuning. Bunga Seulanga Putih jauh lebih harum dan wangi dibandingkan Seulanga biasa. Bunga ini pada masa lalu sering dipakai pada pengantin wanita.

 

 

g.Cempaka (Jeumpa) Putih

 

 

Ciri-ciri dari tanaman ini, daun dan bunganya lebih kecil sedikit dari cempaka biasa, sedangkan bunganya berwarna putih dan ada garis kuning melingkar diujung atau ditengah bunga, kalau cempaka biasa berwarna putih mulus, tanpa ada garis kuning di ujung atau di tengah bunga. Namun bunga cempaka spesifik Atjeh jauh

lebih harum dan wangi, bila tanaman ini berbunga biasanya dua pertiga daun dari pohonnya gugur, ibarat musim semi di Negara Barat, yang nampak hanya bunga-bunga cempaka indah yang harum semerbak. Bunga ini sering dipakai pada upacara adat perkawinan dan menjadi hiasan digagang rencong pengantin pria.

Perpaduan bunga-bunga khas Atjeh dan beraroma harum semerbak yang beraneka ragam jenis, belum dapat dijelaskan satu persatu dalam tulisan ini dan memerlukan penelitian serta pengembangan serius guna kelestariannya, seperti Bungong Siyun-yun (sejenis anggrek hutan), Bungong Ie Mawou (mawar kampong yang berwarna merah, putih dan orient), Bungong Sareuba, Bungong Canden, Bungong Riwat, dan lain-lain.

Di samping ragam jenis bunga khas Atjeh yang harum semerbak, di Atjeh juga terdapat berbagai jenis satwa langka,

seperti: kura-kura raksasa yang mempunyai panjang lebih dari satu meter, dalam bahasa Aceh disebut Lantui atau Baneng Glee dan hidup di kawasan gunung-gunung Barat-Selatan Atjeh, demikian juga burung-burung khas seperti Cempala Rimung, Cempala Kuneng, Berujuek Balee (Cucak Rawa), Gerepouk Tampi sejenis burung garuda atau elang raksasa dll yang hidup di kawasan Lamteuba, Seulimun, montasik Aceh Besar dan kawasan lainnya di Atjeh. Demikian juga di Atjeh terdapat jenis ikan langka dalam bahasa Atjeh disebut Eungkot Luloh, sejenis ikan mirip salmon. Ikan luloh ini ketika mengandung telur, maka telurnya mempunyai ukuran dua kali lipat lebih besar dari ukuran normal badannya dan rasanya sangat enak serta gurih, ikan langka ini hidup di kawasan sungai air tawar di Lamno-Atjeh Jaya dan daerah Tangsee serta Geumpang Atjeh Pidie.

Demikian juga dengan udang besar yang ukurannya bila sudah tua mempunyai berat lebih dari satu kilogram per ekornya, dalam bahasa Atjeh disebut dengan Udeng Galah atau Udeng Tima, begitu juga dengan belut raksasa, bila sudah besar seukuran paha orang dewasa, dan rasanya sangat gurih serta lezat, dalam bahasa Atjeh disebut Lije atau Ileeh dan hidup di sungai-sungai air tawar, seperti Krueng Aceh dll. Semua itu dapat memberikan nilai ekonomi tinggi bila dikelola secara profesional.

 

 

2. Pengaturan Waktu Tanam

 

 

 

Jika kita baca secara arif, Kitab Tajul Muluk (Mahkota Raja) tulisan tangan abad ke 17 M. Kitab ini merupakan pedoman bagi para tetua dulu untuk menentukan sesuatu hal, terutama bagi petua gunung (Petua Sinebouk atau Pawang Glee) untuk menentukan waktu bercocok tanam bagi para petani. Dan Kitab Falaqiyah, serta wawancara dengan tokoh petani Aceh tentang penentuan bulan dalam tahun Hijriyah, hari, waktu menanam tumbuh-tumbuhan (Keuneunong: buleun, uroe, saat dan jam penanaman). Maka dipapar-kan secara jelas bahwa untuk jenis tanaman berbatang, berbiji, berbunga, berdaun, dan berbuah diatas tanah ditanam pada waktu bulan naik dalam tahun hijriyah, yaitu 1 s/d 15 hari bulan sedangkan tanaman yang berbuah dan berakar didalam tanah ditanam pada waktu bulan turum dalam tahun hijriah yaitu 16 sampai 30 hari bulan.

Secara rinci, penentuan hari untuk penanaman dari jenis-jenis tanaman adalah sebagai berikut :

 

a) Pada hari ahad (minggu) menanam segala jenis yang berbatang, seperti: kilit manis, jati, Mahoni, Cemara laut, Karet dan sebagainya.

b) Pada hari senin menanam segala jenis yang berbuah dalam tanah, seperti : Kentang, Singkong, jahe, Ubi, Kunyit, Bawang dan sebagainya.

c) Pada hari selasa mananam segala jenis yang berbiji, Seperti : Padi, Jagung, Kacang hijau, Lada, Pinang, Kemiri dan sebagainya.

d) Pada hari rabu menanam segala jenis yang berbunga, seperti : Melati, Bunga mawar, cempaka, Kenanga, Kemuning, Melur, Anggrek dan sebagainya.

e) Pada hari kamis menanam segala jenis yang berdaun seperti : Nilam, Sawi, Bayam, Kol, dan sebagainya.

f) Pada hari Jum’at menanam segala jenis yang berbuah diatas tanah, seperti : kelapa , Mangga, Pepaya, Pisang, Cabai, Terong, tomat dan sebagainya.

g) Pada hari sabtu menanam segala jenis yang berakar didalam tanah, yang dimaksud akar disini adalah yang biasa digunakan untuk pengobatan, seperti :

ginseng, Akar, wangi, Akar Ilalang dan sebagainya.

Sedangkan waktu yang tepat dalam penanamannya diatur sebagai berikut :

 

a) Jika hari Minggu, dilakukan pada pagi-pagi atau waktu ashar.

b) Jika hari Senin, dilakukan hampir tengah hari atau zhuhur.

c) Jika hari Selasa, dilakukanpada waktu dhuha.

d) Jika hari Rabu, dilakukan pada waktu tengah hari atau waktu ashar.

e) Jika hari Kamis, dilakukan pada pagi-pagi atau tengah hari.

f) Jika hari Jumat, dilakukan pada waktu setelah sholat jumat.

g) Jika hari Sabtu, dilakukan pada waktu dhuha.

 

Yang utama dari itu semua tentu dengan niat ikhlas kepada Allah agar tanaman tersebut dihidarkan dari penyakit dan diberikan hasil yang membawa berkah.

Demikianlah beberapa warisan “Boynah Endatu” Aceh yang dapat penulis sajikan berkenaan dengan tanaman khas Atjeh dan waktu menanamnya.

Untuk mendapatkan tanaman tersebut harus dilakukan penelitian dan penelusuran serius ke desa-desa di Nanggroe Aceh, terutama di desa Lamkrak, Peukan Bilui dan Lampene’e (kecamatan Darul Imarah-Aceh Besar), desa Paleuh, Lam U (kec. Montasik), Pesantren Lambhuk (kodya b. Aceh), Pesantren tanoh Abee (kec. Seulimum) dan desa-desa di Kecamatan Indra Puri, Atjeh Besar atau dengan melakukan wawancara kepada orang-orang tua di pasar-pasar tradisional Atjeh, seperti pasar Lambaro, pasar Sibreh, pasar Samahani, Indra puri, Seulimun, Kamireu yang semuanya terletak di Atjeh Besar, dan desa-desa serta pasar-pasar tradisional lainnya di Nangroe Atjeh Darussalam.

Pelestarian ini dapat dilakukan melalui kerjasama dengan Dinas Kebudayaan dan Pertanian Atjeh serta Kebun Raya Bogor di samping Instansi terkait lainnya. Sebaiknya tanaman spesifik Aceh di tanam di Taman Mini Atjeh, Taman-taman Kota, di pinggir-pinggir jalan dalam wilayah propinsi Atjeh dan di situs-situs purbakala Aceh, serta di Kebun Raya Bogor. Dikhawatirkan bila tanaman dan satwa ini terlambat dilestarikan serta dikembangkan, tanaman

spesifik Aceh akan punah untuk selamanya, disebabkan tanaman tersebut sudah sangat langka di Bumi Aceh.

Perkenankan saya menutup tulisan ini dengan sebuah “pantun bermakna”:

 

e.Rambutan Khas Atjeh

 

d.Pinang Warna Merah

 

minyeuk keumenyan) di kampung-kampung sebagai pengharum.

 

 

 

Catatan :

 

Jangan Lupa Berdoa diwaktu menanam dan memetik hasil.

Pustaka

 

1. Harap ditanam pada waktu musim tanam atau musim hujan

2. Jika tidak hujan, maka penyiraman tanaman dilakukan pada waktu sore/ malam hari

3. Pemupukan tumbuhan dilakukan sore hari, tolong dijaga agar lahan tempat tanaman selalu lembab atau basah . (yang lebih utama dari semua itu, harus dilakukan dengan niat ikhlas kepada Allah agar tanaman tersebut dihindarkan dari penyakit dan diberikan hasil yang membawa berkah). Amin.

4. Setelah dimulai penanaman pertama pada waktu-waktu yang ditentukan untuk selanjutnya dapat diteruskan penanamannya pada pagi-pagi atau sore hari berikutnya tanapa harus mengikuti ketentuan diatas.

5. Jadwal ini berlaku untuk pembibi-tan/Penanaman

6. Pengambilan hasil dilakukan pada waktu Air surut

 

 

“Bek Teunget Lee Rakan Boh Hatee

Beudoh Tapikee Boynah Endatu,

Mangat lestari pusaka dilee,

Budaya Atjeh Jinoe Ta Pelaku”

Syeh Nuruddin Ar-Raniri, Abad 16 M. Kitab Bustanussalatin (Taman Sultan).

Syeh Abbas Kuta Karang, Abad 17M. Kitab Tajul Muluk “Mahkota Raja”

M. Zainuddin Tarizh Atjeh dan Nusantara, 1961. Percetakan Iskandar Muda

M. Yunus Jamil Tarawich Raja-raja Atjeh, 1968. Kodam i Iskandar Muda

Penulis adalah :

 

 

 

Muhammad Iqbal lambhuk, M.H.

 

Dosen Unsyiah Banda Aceh

Sedang Penelitian di Bandung

 

 

Agus Irwanto, SE.

 

Lahir di Bireuen, pada

tanggal 31 Agustus 1976

Dosen Unimus Peusangan Bireuen & STIE Kebangsaan Bireuen Aceh

Saat ini sedang menyelesaikan S2 di Unsyiah Banda Aceh

 

 

 

 

minyeuk keumenyan) di kampung-kampung sebagai pengharum.

 

 

 

Catatan :

 

Jangan Lupa Berdoa diwaktu menanam dan memetik hasil.

Pustaka

 

1. Harap ditanam pada waktu musim tanam atau musim hujan

2. Jika tidak hujan, maka penyiraman tanaman dilakukan pada waktu sore/ malam hari

3. Pemupukan tumbuhan dilakukan sore hari, tolong dijaga agar lahan tempat tanaman selalu lembab atau basah . (yang lebih utama dari semua itu, harus dilakukan dengan niat ikhlas kepada Allah agar tanaman tersebut dihindarkan dari penyakit dan diberikan hasil yang membawa berkah). Amin.

4. Setelah dimulai penanaman pertama pada waktu-waktu yang ditentukan untuk selanjutnya dapat diteruskan penanamannya pada pagi-pagi atau sore hari berikutnya tanapa harus mengikuti ketentuan diatas.

5. Jadwal ini berlaku untuk pembibi-tan/Penanaman

6. Pengambilan hasil dilakukan pada waktu Air surut

 

 

“Bek Teunget Lee Rakan Boh Hatee

Beudoh Tapikee Boynah Endatu,

Mangat lestari pusaka dilee,

Budaya Atjeh Jinoe Ta Pelaku”

Syeh Nuruddin Ar-Raniri, Abad 16 M. Kitab Bustanussalatin (Taman Sultan).

Syeh Abbas Kuta Karang, Abad 17M. Kitab Tajul Muluk “Mahkota Raja”

M. Zainuddin Tarizh Atjeh dan Nusantara, 1961. Percetakan Iskandar Muda

M. Yunus Jamil Tarawich Raja-raja Atjeh, 1968. Kodam i Iskandar Muda

Penulis adalah :

 

 

 

Muhammad Iqbal lambhuk, M.H.

 

Dosen Unsyiah Banda Aceh

Sedang Penelitian di Bandung

 

 

Agus Irwanto, SE.

 

Lahir di Bireuen, pada

tanggal 31 Agustus 1976

Dosen Unimus Peusangan Bireuen & STIE Kebangsaan Bireuen Aceh

Saat ini sedang menyelesaikan S2 di Unsyiah Banda Aceh

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: